Rabu, 30 Desember 2009

Adolf Hitler Meninggal di Indonesia ?

Sesaat ketika membaca judul postingan ini, saya yakin banyak diantara kita yang akan bertanya atau paling tidak meragukannya, "Adolf Hitler, si pemimpin NAZI yang sangat kejam, bengis dan penyebab utama Perang Dunia II itu ?". Ketika saya membaca pertama kali artikel ini, saya juga melakukan hal yang sama seperti Anda : tersenyum sinis sambil berpikir artikel fiktif apalagi ini.. Tapi ketika saya teruskan membacanya, saya menemukan suatu pola pikir yang berubah yang memberikan suatu jawaban tersendiri untuk pertanyaan di atas. Semoga tulisan ini juga dapat membantu merubah pola pikir kita semua. Selamat membaca.

jika saja ada yang rajin menyimpan klipingan artikel harian “Pikiran Rakyat” sekitar tahun 1983, tentu akan menemukan tulisan dokter Sosrohusodo mengenai pengalamannya bertemu dengan seorang dokter tua asal Jerman bernama Poch di pulau Sumbawa Besar pada tahun 1960. Dokter tua itu kebetulan memimpin sebuah rumah sakit besar di pulau tersebut.

Tapi bukan karena mengupas kerja dokter Poch, jika kemudian artikel itu menarik perhatian banyak orang, bahkan komentar sinis dan cacian! Namun kesimpulan akhir artikel itulah yang membuat banyak orang mengerutkan kening. Sebab dengan beraninya Sosro mengatakan bahwa dokter tua asal Jerman yang pernah berbincang-bincang dengannya, tidak lain adalah Adolf Hitler, mantan diktator Jerman yang super terkenal karena telah membawa dunia pada Perang Dunia II!

Beberapa “bukti” diajukannya, antara lain dokter Jerman tersebut cara berjalannya sudah tidak normal lagi, kaki kirinya diseret. Tangan kirinya selalu gemetar. Kumisnya dipotong persis seperti gaya aktor Charlie Chaplin, dengan kepala plontos. Kondisi itu memang menjadi ciri khas Hitler pada masa tuanya, seperti dapat dilihat sendiri pada buku-buku yang menceritakan tentang biografi Adolf Hitler (terutama saat-saat terakhir kejayaannya), atau pengakuan Sturmbannführer Heinz Linge, bekas salah seorang pembantu dekat sang Führer. Dan masih banyak “bukti” lain yang dikemukakan oleh dokter Sosro untuk mendukung dugaannya.

Keyakinan Sosro yang dibangunnya dari sejak tahun 1990-an itu hingga kini tetap tidak berubah. Bahkan ia merasa semakin kuat setelah mendapatkan bukti lain yang mendukung ‘penemuannya’. “Semakin saya ditentang, akan semakin keras saya bekerja untuk menemukan bukti-bukti lain,” kata lelaki yang lahir pada tahun 1929 di Gundih, Jawa Tengah ini ketika ditemui di kediamannya di Bandung.

Andai saja benar dr. Poch dan istrinya adalah Hitler yang tengah melakukan pelarian bersama Eva Braun, maka ketika Sosro berbincang dengannya, pemimpin Nazi itu sudah berusia 71 tahun, sebab sejarah mencatat bahwa Adolf Hitler dilahirkan tanggal 20 April 1889. “Dokter Poch itu amat misterius. Ia tidak memiliki ijazah kedokteran secuilpun, dan sepertinya tidak menguasai masalah medis,” kata Sosro, lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia yang sempat bertugas di pulau Sumbawa Besar ketika masih menjadi petugas kapal rumah sakit Hope.

Sebenarnya, tumbuhnya keyakinan pada diri Sosro mengenai Hitler di pulau Sumbawa Besar bersama istrinya Eva Braun, tidaklah suatu kesengajaan. Ketika bertugas di pulau tersebut dan bertemu dengan seorang dokter tua asal Jerman, yang ada pada benak Sosro baru tahap kecurigaan saja.

Meskipun begitu, ia menyimpan beberapa catatan mengenai sejumlah “kunci” yang ternyata banyak membantu. Perhatiannya terhadap literatur tentang Hitler pun menjadi kian besar, dan setiap melihat potret tokoh tersebut, semakin yakin Sosro bahwa dialah orang tua itu, orang tua yang sama yang bertemu dengannya di sebuah pulau kecil d Indonesia!

Ketidaksengajaan itu terjadi pada tahun 1960, berarti sudah dua puluh tahun lebih ia meninggalkan pulau Sumbawa Besar.

Suatu saat, seorang keponakannya membawa majalah Zaman edisi no.15 tahun 1980. Di majalah itu terdapat artikel yang ditulis oleh Heinz Linge, bekas pembantu dekat Hitler, yang berjudul “Kisah Nyata Dari Hari-Hari Terakhir Seorang Diktator”, yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Try Budi Satria.

Pada halaman 59, Linge mula-mula menceritakan mengenai bunuh diri Hitler dan Eva Braun, serta cara-cara membakar diri yang kurang masuk di akal. Kemudian Linge membeberkan keadaan Hitler pada waktu itu.“Beberapa alinea dalam tulisan itu membuat jantung saya berdetak keras, seperti menyadarkan saya kembali. Sebab di situ ada ciri-ciri Hitler yang juga saya temukan pada diri si dokter tua Jerman. Apalagi setelah saya membaca buku biografi ‘Hitler’. Semuanya ada kesamaan,” ungkap ayah empat anak ini.

Heinz Linge menulis, “beberapa orang di Jerman mengetahui bahwa Führer sejak saat itu kalau berjalan maka dia menyeret kakinya, yaitu kaki kiri. Penglihatannya pun sudah mulai kurang terang serta rambutnya hampir sama sekali tidak tumbuh... kemudian, ketika perang semakin menghebat dan Jerman mulai terdesak, Hitler menderita kejang urat.”

Linge melanjutkan, “di samping itu, tangan kirinya pun mulai gemetar pada waktu kira-kira pertempuran di Stalingrad (1942-1943) yang tidak membawa keberuntungan bagi bangsa Jerman, dan ia mendapat kesukaran untuk mengatasi tangannya yang gemetar itu.” Pada akhir artikel, Linge menulis, “tetapi aku bersyukur bahwa mayat dan kuburan Hitler tidak pernah ditemukan.”

Lalu Sosro mengenang kembali beberapa dialog dia dengan “Hitler”, saat Sosro berkunjung ke rumah dr. Poch. Saat ditanya tentang pemerintahan Hitler, kata Sosro, dokter tua itu memujinya. Demikian pula dia menganggap bahwa tidak ada apa-apa di kamp Auschwitz, tempat ‘pembantaian’ orang-orang Yahudi yang terkenal karena banyak film propaganda Amerika yang menyebutkannya.

“Ketika saya tanya tentang kematian Hitler, dia menjawab bahwa dia tidak tahu sebab pada waktu itu seluruh kota Berlin dalam keadaan kacau balau, dan setiap orang berusaha untuk lari menyelamatkan diri masing-masing,” tutur Sosrohusodo.

Di sela-sela obrolan, dr. Poch mengeluh tentang tangannya yang gemetar. Kemudian Sosro memeriksa saraf ulnarisnya. Ternyata tidak ada kelainan, demikian pula tenggorokannya. Ketika itu, ia berkesimpulan bahwa kemungkinan “Hitler” hanya menderita parkisonisme saja, melihat usianya yang sudah lanjut.

Yang membuat Sosro terkejut, dugaannya bahwa sang dokter mungkin terkena trauma psikis ternyata diiyakan oleh dr. Poch! Ketika disusul dengan pertanyaan sejak kapan penyakit itu bersarang, Poch malah bertanya kepada istrinya dalam bahasa Jerman.

“Itu kan terjadi sewaktu tentara Jerman kalah perang di Moskow. Ketika itu Goebbels memberi tahu kamu, dan kamu memukul-mukul meja,” ucap istrinya seperti ditirukan oleh Sosro. Apakah yang dimaksud dengan Goebbels adalah Joseph Goebbels, Menteri Propaganda Jerman yang terkenal setia dan dekat dengan Hitler? Istrinya juga beberapa kali memanggil dr. Poch dengan sebutan “Dolf”, yang mungkin merupakan kependekan dari Adolf!

Setelah memperoleh cemoohan sana-sini sehubungan dengan artikelnya, tekad Sosrohusodo untuk menuntaskan masalah ini semakin menggebu. Ia mengaku bahwa kemudian memperoleh informasi dari pulau Sumbawa Besar bahwa Poch sudah meninggal di Surabaya. Beberapa waktu sebelum meninggal, istrinya pulang ke Jerman. Poch sendiri konon menikah lagi dengan nyonya S, wanita Sunda asal Bandung, karyawan di kantor pemerintahan di pulau Sumbawa Besar!

Untuk menemukan alamat nyonya S yang sudah kembali lagi ke Bandung, Sosro mengakui bukanlah hal yang mudah. Namun akhirnya ada juga orang yang memberitahu. Ternyata, ia tinggal di kawasan Babakan Ciamis! Semula nyonya S tidak begitu terbuka tentang persoalan ini. Namun karena terus dibujuk, sedikit demi sedikit mau juga nyonya S berterus terang.

Begitu juga dengan dokumen-dokumen tertulis peninggalan suaminya kemudian diserahkan kepada Sosrohusodo, termasuk foto saat pernikahan mereka, plus rebewes (SIM) milik dr. Poch yang ada cap jempolnya. Dari nyonya S diketahui bahwa dr. Poch meninggal tanggal 15 Januari 1970 pukul 19.30 pada usia 81 tahun di Rumah Sakit Karang Menjangan Surabaya akibat serangan jantung. Keesokan harinya dia dimakamkan di desa Ngagel.

Dalam salah satu dokumen tertulis, diakuinya bahwa ada yang amat menarik dan mendukung keyakinannya selama ini. Pada buku catatan ukuran saku yang sudah lusuh itu, terdapat alamat ratusan orang-orang asing yang tinggal di berbagai negara di dunia, juga coretan-coretan yang sulit dibaca. Di bagian lainnya, terdapat tulisan steno. Semuanya berbahasa Jerman. Meskipun tidak ada nama yang menunjukkan kepemilikan, tapi diyakini kalau buku itu milik suami nyonya S.

Di sampul dalam terdapat kode J.R. KepaD no.35637 dan 35638, dengan masing-masing nomor itu ditandai dengan lambang biologis laki-laki dan wanita. “Jadi kemungkinan besar, buku itu milik kedua orang tersebut, yang saya yakini sebagai Hitler dan Eva Braun,” tegasnya dengan suara yang agak parau.

Negara yang tertulis pada alamat ratusan orang itu antara lain Pakistan, Tibet, Argentina, Afrika Selatan, dan Italia. Salah satu halamannya ada tulisan yang kalau diterjemahkan berarti : Organisasi Pelarian. Tuan Oppenheim pengganti nyonya Krüger. Roma, Jl. Sardegna 79a/1. Ongkos-ongkos untuk perjalanan ke Amerika Selatan (Argentina).

Lalu, ada pula satu nama dalam buku saku tersebut yang sering disebut-sebut dalam sejarah pelarian orang-orang Nazi, yaitu Prof. Dr. Draganowitch, atau ditulis pula Draganovic. Di bawah nama Draganovic tertulis Delegation Argentina da imigration Europa – Genua val albaro 38. secara terpisah di bawahnya lagi tertera tulisan Vatikan. Di halaman lain disebutkan, Draganovic Kroasia, Roma via Tomacelli 132.

Majalah Intisari terbitan bulan Oktober 1983, ketika membahas Klaus Barbie alias Klaus Altmann bekas polisi rahasia Jerman zaman Nazi, menyebutkan alamat tentang Val Albaro. Disebutkan pula bahwa Draganovic memang memiliki hubungan dekat dengan Vatikan Roma. Profesor inilah yang membantu pelarian Klaus Barbie dari Jerman ke Argentina. Pada tahun 1983 Klaus diekstradisi dari Bolivia ke Prancis, negara yang menjatuhkan hukuman mati terhadapnya pada tahun 1947.

“Masih banyak alamat dalam buku ini, yang belum seluruhnya saya ketahui relevansinya dengan gerakan Nazi. Saya juga sangat berhati-hati tentang hal ini, sebab menyangkut negara-negara lain. Saya masih harus bekerja keras menemukan semuanya. Saya yakin kalau nama-nama yang tertera dalam buku kecil ini adalah para pelarian Nazi!” tandasnya.

Mengenai tulisan steno, diakuinya kalau ia menghadapi kesulitan dalam menterjemahkannya ke dalam bahasa atau tulisan biasa. Ketika meminta bantuan ke penerbit buku steno di Jerman, diperoleh jawaban bahwa steno yang dilampirkan dalam surat itu adalah steno Jerman “kuno” sistem Gabelsberger dan sudah lebih dari 60 tahun tidak digunakan lagi sehingga sulit untuk diterjemahkan.

Tetapi penerbit berjanji akan mencarikan orang yang ahli pada steno Gabelsberger. Beberapa waktu lamanya, datang jawaban dari Jerman dengan terjemahan steno ke dalam bahasa Jerman. Sosrohusodo menterjemahkannya kembali ke dalam bahasa Indonesia. Judul catatan dalam bentuk steno itu, kurang lebih berarti “keterangan singkat tentang pengejaran perorangan oleh Sekutu dan penguasa setempat pada tahun 1946 di Salzburg”. Kota ini terdapat di Austria.

Di dalamnya berkisah tentang “kami berdua, istri saya dan saya pada tahun 1945 di Salzburg”. Tidak disebutkan siapakah ‘kami berdua’ di situ. Dua insan tersebut, kata catatan itu, dikejar-kejar antara lain oleh CIC (dinas rahasia Amerika Serikat). Pada pokoknya, menggambarkan penderitaan sepasang manusia yang dikejar-kejar oleh pihak keamanan.

Di dalamnya juga terdapat singkatan-singkatan yang ditulis oleh huruf besar, yang kalau diurut akan menunjukkan rute pelarian keduanya, yaitu B, S, G, J, B, S, R. “Cara menyingkat seperti ini merupakan kebiasaan Hitler dalam membuat catatan, seperti yang pernah saya baca dalam literatur yang lainnya,” Sosrohusodo memberikan alasan.

Dari singkatan-singkatan itu, lalu Sosro mencoba untuk mengartikannya, yang kemudian dikaitkan dengan rute pelarian. Pelarian dimulai dari B yang berarti Berlin, lalu S (Salzburg), G (Graz), J (Jugoslavia), B (Beograd), S (Sarajevo) dan R (Roma). Tentang Roma, Sosro menjelaskan bahwa itu adalah kota terakhir di Eropa yang menjadi tempat pelariannya. Setelah itu mereka keluar dari benua tersebut menuju ke suatu tempat, yang tidak lain tidak bukan adalah pulau Sumbawa Besar di Nusantara tercinta!

Ia mengutip salah satu tulisan dalam steno tadi : “Pada hari pertama di bulan Desember, kami harus pergi ke R untuk menerima suatu surat paspor, dan kemudian kami berhasil meninggalkan Eropa”. Ini, kata Sosro, sesuai dengan data pada paspor dr. Poch yang menyebutkan bahwa paspor bernomor 2624/51 diberikan di Rom (tanpa huruf akhir A)”. Di buku catatan berisi ratusan alamat itu, nama Dragonic dikaitkan dengan Roma, begitulah Sosro memberikan alasan lainnya.

Lalu mengenai Berlin dan Salzburg, diterangkannya dengan mengutip majalah Zaman edisi 14 Mei 1984. Dikatakan bahwa sejarah telah mencatat peristiwa jatuhnya pesawat yang membawa surat-surat rahasia Hitler yang jatuh di sekitar Jerman Timur pada tahun 1945. “Ini juga menunjukkan rute pelarian mereka,” katanya lagi.

Lalu bagaimana komentar nyonya S yang disebut-sebut Sosro sebagai istri kedua dr. Poch? Konon ia pernah berterus terang kepada Sosro. Suatu hari suaminya mencukur kumis mirip kumis Hitler, kemudian nyonya S mempertanyakannya, yang kemudian diiyakan bahwa dirinya adalah Hitler. “Tapi jangan bilang sama siapa-siapa,” begitu Sosro mengutip ucapan nyonya S.

Membaca dan menyimak ulasan dr. Sosrohusodo, sekilas seperti ada saling kait mengkait antara satu dengan yang lainnya. Namun masih banyak pertanyaan yang harus diajukan kepada Sosro, dengan tidak bermaksud meremehkan pendapat pribadinya berkaitan dengan Hitler, sebab mengemukakan pendapat adalah hak setiap warga negara.

Bahkan Sosrohusodo sudah membuat semacam diktat yang memaparkan pendapatnya tentang Hitler, dilengkapi dengan sejumlah foto yang didapatnya dari nyonya S. Selain itu, isinya juga mengisahkan tentang pengalaman sejak dia lulus dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia hingga bertugas di Bima, Kupang, dan Sumbawa Besar. Ia juga telah mengajukan hasil karyanya ke berbagai pihak, namun belum ada tanggapan. “Padahal tidak ada maksud apa-apa di balik kerja saya ini, hanya ingin menunjukkan bahwa Hitler mati di Indonesia,” katanya mantap.

Bukan hanya Sosro yang mempunyai teori tentang pelarian Hitler dari Jerman ke tempat lain, tapi beberapa orang di dunia ini pernah mengungkapkannya dalam media massa. Peluang untuk berteori seperti itu memang ada, sebab ketika pemimpin Nazi tersebut diduga mati bersama Eva Braun tahun 1945, tidak ditemukan bukti utama berupa jenazah!

Adalah tugas para pakar dalam bidang ini untuk mencoba mengungkap segala sesuatunya, termasuk keabsahan dokumen yang dimiliki oleh Sosrohusodo, nyonya S, atau makam di Ngagel yang disebut sebagai tempat bersemayamnya dr. Poch.

Mungkin para ahli forensik dapat menjelaskannya lewat penelitian terhadap tulang-tulang jenazahnya. Semua itu tentu berpulang pada kemauan baik semua pihak...

Rabu, 08 Juli 2009

SKINHEAD SEBUAH JALAN HIDUP

Skinhead sangat terkenal akan reputasi kekerasannya, baik di teras sepak bola, di jalanan, atau di manapun Skinhead selalu di asosiasikan dengan kekerasan. Kekerasan ini biasanya mereka lakukan terhadap musuh-musuh budaya mereka seperti Hippies, Greasers, Teds, ataupun Hell Angels, namun yang paling menjadi perhatian nasional adalah kekerasan Skinhead terhadap orang-orang Asia yang hidup di Inggris, terutama imigran asal Pakistan. Hal yang lebih dikenal dengan istilah Paki Bashing atau Paki Aggro ini sangat sering terjadi, di liput besar-besaran oleh media dan bahkan menjadi topik utama yang di bahas antara pemerintah Inggris dan Pakistan saat itu. Padahal kenyataannya bukan hanya orang Pakistan saja yang menjadi korban kekerasan para Skinhead, orang India, Bengali, dan bangsa-bangsa asal Asia lainnya pun menjadi korban dan di beri label Paki. Bentuk kekerasan yang paling umum adalah para Skinhead memukuli para imigran tersebut dalam setiap pertemuan mereka atau merusak toko-toko mereka, dan berbagai tindakan vandalisme lainnnya. Seketika itu juga Skinhead di identikkan dengan Rasisme, lagi-lagi terima kasih kepada media yang dengan suksesnya membunuh karakter budaya ini. Padahal sebenarnya hal itu bukanlah sekedar kekerasan Rasial seperti yang di beritakan oleh media, karena pada kenyataannya bukan hanya Skinhead kulit putih Inggris saja yang melakukan hal tersebut, anak-anak muda keturunan Yunani, anak-anak Ras campuran, bahkan para Skinhead berkulit hitam (Affro Boys) pun ikut terlibat dalam aksi-aksi penyerangan terhadap orang-orang Asia.Yang membuat para Skinhead melakukan penyerangan terhadap mereka adalah karena kebanyakan dari para Imigran ini tidak mau berbaur dan malah menjauhkan diri dari masyarakat Inggris umumnya. Tidak seperti para imigran asal Jamaika yang hidup berdampingan dan berbaur dengan masyarakat Inggris, Orang-orang Asia ini hidupnya sangat eksklusif dan terpisah dari masyarakat ‘negara baru’ mereka. Mereka mempunyai Kafe, Pub dan Bioskop sendiri di mana para Skinhead dan orang-orang kulit putih Inggris tak boleh masuk ke sana. Mereka tidak mau berbahasa Inggris, bersosialisasi hanya dengan sesama mereka dan tak pernah mau menjadi bagian dari masyarakat negara di mana mereka tinggal, jauh berbeda dengan orang-orang Jamaika yang tak sedikit kontribusinya bagi budaya kelas pekerja Inggris, ya….budaya Skinhead. Mereka hanya menjadikan Inggris sebagai tempat mereka bekerja dan mencari uang, lalu mengirimnya kepada keluarga di negara asal mereka. Rasanya tak ada penduduk negara manapun yang mau hidup berdampingan dengan para imigran tak tahu diri seperti itu. Sikap dan tingkah laku para imigran inilah yang menyebabkan para Skinhead marah sehingga terjadi Paki Bashing, jadi bukannya karena warna kulit mereka. Namun apa yang di lakukan para Skinhead itu menjadi hal yang salah ketika pihak lain (sesudah media) ikut campur dan memperkeruh suasana, mereka adalah para Politisi penganut Fasisme…

Adalah Enoch Powell, seorang politisi ambisius dan pembangkang yang memulai catatan hitam dalam sejarah Skinhead ini. Pada April 1968 ia berpidato di depan majelis perwakilan tinggi Inggris, dan pidato yang berjudul Rivers of Blood itu membuatnya kehilangan posisinya di kabinet. Pidato tersebut berisi pengecaman dan sentimental Rasisme secara langsung terhadap para imigran kulit berwarna. Enoch mengatakan bahwa para imigran kulit berwarna dari Jamaika, Afrika dan Asia lah yang harus di salahkan atas permasalahan langkanya pekerjaan dan perumahan di Inggris saat itu. Ia menerangkan dengan berapi-api bahwa mereka adalah saingan bagi penduduk asli Inggris dalam mencari penghidupan dan perumahan, sedangkan mereka tidaklah punya hak di negeri itu. Ia menyerukan agar segera di adakan penngusiran besar-besaran terhadap para imigran asal Jamaika, Afrika dan Asia tersebut. Rivers of Blood mungkin saja membuat Enoch di kucilkan dari kancah perpolitikan Inggris, namun pidato tersebut mendapatkan sambutan hangat dari sebagian besar masyarakat Inggris terutama kelas pekerja yang merasakan langsung akibat dari membanjirnya imigran saat itu. Ia menarik simpati sepuluh ribu orang yang berdemo di depan gedung parlemen Inggris, menyatakan dukungan mereka tehadap Enoch. Dalam waktu singkat tiba-tiba saja Enoch menjadi idola baru kelas pekerja terutama di kalangan kaum mudanya, ya… Enoch adalah pahlawan bagi beberapa Skinhead saat itu dan merekalah yang mewujudkan ide-ide Enoch di jalanan. Namun saat itu mereka belumlah menjadi pendukung aktif nya Enoch, kebanyakan Skinhead saat itu tak tertarik dengan politik terorganisasi, kebanyakan bahkan belum mempunyai hak pilih, sebagian lagi lebih memilih partai buruh, partai Torries bahkan partai liberal saat pemilihan umum.

Di kucilkan dari kancah perpolitikan tidaklah membuat Enoch menyerah, dengan bermodalkan kepopuleran dirinya di kalangan sebagian besar kelas pekerja, ia mendirikan sebuah partai bernama National Front. Partai yang berlandaskan pada ideologi Ultra Nasionalisme atau Fasisme ini menjadi kendaraannya untuk menjadi oposisi pemerintahan dan mewujudkan mimpinya akan superioritas kulit putih Inggris terhadap imigran kulit berwarna. Namun secara umum tak banyak orang yang menanggapi Enoch dan NF secara serius di tahun-tahun akhir dekade 60-an, tapi pada pertengahan dekade 70-an populeritas NF mencapai puncaknya, partai ini mendapatkan 250 ribu suara dalam pemilihan lokal tahun 1977. Beberapa kalangan memprediksi bahwa NF akan menjadi kekuatan pengganti partai Liberal yang saat itu menjadi partai politik ke tiga terbesar di Inggris sesudah partai buruh dan partai konservatif. Seperti halnya partai-partai politik lainnya NF pun mengincar suara dari kaum muda, dan yang menjadi incaran mereka saat itu adalah para Skinhead. Hal tersebut karena mereka memandang Skinhead adalah kaum yang tepat untuk di jadikan pejuang-pejuang utama yang maju di garis depan memperjuangkan ide-ide politik mereka. Mereka tertarik dengan reputasi kekerasan Skinhead, di tambah latar belakang mereka sebagai kelas pekerja yang tentunya dengan mudah termakan agitasi dan propaganda NF tentang imigran kulit berwarna. Keras, militan, dan berlatar belakang kelas pekerja, ya….Skinhead adalah target yang sangat tepat untuk di jadikan sasaran perekrutan NF. Segera saja NF dengan licik merubah isu kemiskinan yang sebenarnya adalah isu klasik tentang pertentangan kelas menjadi isu kebencian rasial. Mereka melimpahkan kemiskinan yang sebenarnya terjadi sebagai akibat dari bobroknya sistem pemerintahan Margareth Tatcher kepada imigran kulit berwarna, persis seperti yang dulu di lakukuan Hitler di Jerman terhadap orang Yahudi. Keadaan pun sangat memungkinkan hal itu terjadi, era 70-an adalah era kekacauan yang merupakan akumulasi dari kesalahan yang terjadi di era-era sebelumnya, hal ini di perkuat dengan kemunculan gelombang Punk di Inggris, yang bermuara pada ketidakpuasan kaum muda terhadap keadaan saat itu. Permasalahan sosial di akhir 70-an pun lebih kompleks ketimbang di era sebelumnya, anak-anak muda saat itu frustasi dengan kenyataan hidup, mereka bingung apa yang harus di lakukan saat lulus sekolah karena lapangan pekerjaan yang semakin sempit, hal itulah yang membuat mereka manjadi lebih agresif dan merupakan sasaran empuk bagi NF. Lalu di tahun 1977 berdirilah organisasi bernama Young National Front, sebuah organisasi bawahan NF yang mengkhususkan diri untuk menampung para Skinhead yang tertarik dengan ide-ide NF. Media lagi-lagi ikut campur, mereka dengan seenaknya mengasosiasikan semua Skinhead dangan NF, tanpa menjelaskan bahwa banyak juga Skinhead yang menentang habis-habisan ide NF dan bergabung dengan Anti Nazi League, atau bahkan ada juga Skinhead yang tak mau terlibat masalah tersebut. Terlebih lagi pada kenyataaanya bukan hanya Skinhead yang menjadi simpatisan NF, Punks, Teds, Mods bahkan orang-orang biasa pun banyak yang menjadi simpatisan partai ini.

NF dan segala agitasinya semakin menggila dengan slogan-slogannya seperti ‘jika mereka berkulit hitam, kirim mereka pulang!!!’ dan menetapkan garis perjuangan baru yang lebih radikal dari sebelumnya, yaitu:
1. Negara Inggris hanyalah untuk orang Inggris, hentikan imigrasi…!!!
2. Lapangan pekerjaan di Inggris hanyalah untuk pekerja Inggris saja.
3. Hancurkan IRA (tentara rakyat Irlandia Utara yang memberontak pada kerajaan Inggris)
4. Menyerukan agar Inggris keluar dari common market (pasar bersama Inggris dan negara-negara bekas jajahannya)
5. Hentikan bantuan bagi negara-negara lain, bangun perumahan dan sarana kesehatan bagi masyarakat Inggris.
6. Hancurkan Komunisme.
Benar-benar janji dan seruan yang bermuara pada mimpi-mimpi kosong demi mencapai tujuan politik sekelompak elit di NF, mustahil hal itu terwujud jika NF berhasil menjadi partai yang bekuasa sekalipun, karena ‘pada akhirnya kelas pekerja lah yang menjadi pecundang tak peduli siapapun yang memerintah’. Semua propaganda itu di publikasikan melalui sebuah koran bernama Bulldog yang terbit setiap bulan. Dengan Enoch sebagai ketua partai, Bulldog sebagai alat propaganda, dan para Skinhead anggota YNF yang siap bertarung di jalan-jalan membela garis politik NF, partai ini menjadi ancaman baru di kancah percaturan politik Inggris. Ironisnya reputasi buruk Skinhead akan tindak kekerasan yang sejak dulu melekat justru membuat orang-orang awam berpaling dari NF, suara partai ini merosot tajam pada pemilihan umum tahun1979. Para petinggi NF sadar kalau mereka salah langkah dengan merekrut para Skinhead, Skinhead pun tiba-tiba menjadi anak tiri di partai tersebut. Ketertarikan Skinhead terhadap NF pun semakin jauh berkurang, karena terungkap bahwa banyak petinggi NF yang homosexual, (sebuah hal yang di benci Skinhead secara turun temurun karena ide kebebasan orientasi sex yang sebenarnya berasal dari ideologi para hippies, musuh budaya Skinhead). Terlebih lagi karena saat itu bermunculan organisasi yang lebih radikal daripada NF, di antaranya adalah British Movement, Anti Paki League, atau organisasi setengah militer seperti Section 88 dan National Socialist Action Party. British Movement adalah yang paling besar dari semuanya, dengan anggota mencapai 8000 orang. BM adalah organisasi pertama yang secara terbuka mengakui kalau mereka menganut Fasisme dan ideologi nasional sosialis, ini adalah organisasi yang jauh lebih radikal daripada NF karena kebanyakan anggotanya lebih tertarik untuk aksi langsung di jalanan ketimbang ikut dalam percaturan politik.

Dengan masuknya ideologi Fasisme, nasional sosialisme, dan merebaknya sentimen anti kulit berwarna membuat Skinhead semakin jauh dari akar budayanya. Fakta sejarah membuktikan politik dalam bentuk apapun tak akan pernah memberikan keuntungan pada budaya Skinhead. Apapun alasannya tidaklah masuk akal jika seorang Skinhead menganut Nazi-isme, dan menjadi seorang Rasis. Tak mungkin seorang penganut budaya yang berasal dari budaya orang kulit hitam menjadi orang yang membenci kulit hitam dan kulit berwarna lainnya. ‘Tak akan ada yang namanya Skinhead di dunia ini tanpa campur tangan orang-orang kulit hitam’. Skinhead berhutang besar pada orang-orang seperti Laurel Aitken, Desmond Dekker, Derrick Morgan dan segudang artis kulit hitam Jamaika lainnya, merekalah yang membidani dan membentuk budaya Skinhead di masa-masa awal prerkembangan budaya ini. Benar jika di katakan seseorang bebas memilih pandangan dan afiliasi politiknya, namun hal itu tidak berlaku bagi seorang Skinhead, karena ketika kau memproklamirkan bahwa kau adalah seorang Skinhead, maka di saat yang sama kau telah memproklamirkan dirimu sebagai seorang Anti-Fasis / Rasis. ‘Setuju atau tidak setuju kau tidak bisa menjadi seorang Skinhead sejati jika kau adalah seorang Fasis, Rasis ataupun seorang Nasional Sosialis, kau tidak lebih dari sekedar orang tertolol di dunia jika kau tetap merasa menjadi seorang Skinhead tapi pada saat yang sama kau adalah seorang penganut ideologi-ideologi tersebut’. Menjadi seorang Nazi bukanlah sebuah pilihan bagi seorang Skinhead, itu adalah sebuah kesalahan besar…, pengingkaran dan penghinaan berat terhadap akar budaya yang kau anut dan kau banggakan, ingat hal itu…..!!!!